Patin Lampung Harus Go International

Patin Lampung Harus Go International

Siapa sangka mengawali bisnis de ngan berjualan benih lele dari desa ke desa akan mengantarkan H. Aribun Sayunis ke posisi juragan patin. Bahkan, ia menjadi inspirator agribisnis bagi para pembudidaya patin di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, Sumsel, Jambi, dan Sumbar. Pria berusia 49 tahun ini sukses membu didayakan patin dan nila pada lebih dari 300 kolam yang terpencar di empat lokasi meliputi Kab.Lampung Selatan dan Lam pung Timur.

Dari kolam berukuran 800- 3.000 m2 itu, ia sanggup memanen patin sebanyak 10 ton/hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan unit pengolah ikan (UPI) yang memproduksi fillet. Dimulai dengan bekerja seorang diri, kini Aribun telah mempekerjakan hampir 100 orang karyawan. Sebagian besar bertugas di bagian panen dan penjualan sekaligus distribusi.

Memasok Benih Lele

Aribun merintis kiprah di dunia akuakul tur pada 1990. Saat usianya baru meng injak 21 tahun itu, ia merangkak dari ba wah dengan modal Rp25 ribu. Mulanya ia memasok benih lele dumbo ke pembu didaya ikan di Kab. Pringsewu dan Kab. Tanggamus.

Tidak lama, usahanya me ram bah ke Kab. Lampung Tengah dan Kab. Lampung Timur. Seiring berjalannya waktu, permintaan benih lele datang dari provinsi lain hingga Aribun pun mema sar kan benih bernama ilmiah Clarias batra chus itu ke Prov. Sumsel, Jambi sampai Sumbar. Berbeda dengan pemasok lain yang se kadar menjual benih, Aribun justru mem berikan pembinaan tentang teknis budi daya benih lele agar berhasil. Selanjutnya, ia juga mencarikan pasar dan bersedia menampung hasil panen para pembudi daya yang membeli benihnya.

Dengan pola demikian, pria yang gigih berusaha ini disenangi banyak pembudidaya. Untuk mengetahui tek nis dan kendala budidaya ser ta penyakit lele, Pak Haji, sa paan nya, lantas melaku kan budidaya lele pada 1994 di Desa Palas Pase mah, Kec. Palas, Kab. Lam pung Selatan. “Jadi, saya ti dak seperti penyu luh yang hanya menje las kan teori tapi hasil peng alaman sen diri di kolam,” terang Ari bun ketika dite mui AGRINA di kediamannya.

Melirik Patin

Aribun makin asyik meng geluti agribisnis lele hingga ia enggan melirik komoditas akuakultur lain nya, seperti patin. Karena gencarnya pemberitaan peluang ekspor patin, pada 2006 ia lantas berinisiatif mengembangkan ikan ber nama latin Pangasius sp. ini. Ia mengingat ekspor udang yang memberi ke untungan luar biasa bagi pembudidaya di Lampung.

Pertimbangan lainnya, pelaku bisnis lele sudah cu kup banyak dan produksi lele dari Lampung berlebih sehingga dikirim ke Sumsel setiap hari. Mulailah ayah tiga anak ini berbudidaya patin dengan menebar benih ukuran dua inci. Benih didatangkan dari Balai Peneli tian dan Pemuliaan Ikan Sukamandi, Subang, Jabar dan bekerja sama dengan para pembenih anggota Asosiasi Pem budidaya Catfish Indonesia (APCI).

Jika Aribun memilih segmen pembe nihan pada budidaya lele, untuk budi daya patin ia mengambil segmen pembe saran atau konsumsi. Sebelumnya, benih Lampung berpotensi menghasilkan patin berstandar internasional dari kolam bekas tambang pasir. Sebab, kualitas air di daerah itu cukup bagus dan lebih dekat dengan Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpatim) Sumatera. Dalam memilih lokasi budidaya, Pak Haji mengutamakan ketersediaan sumber air mengingat iklim Lampung yang meng alami musim kemarau ekstrem selama empat bulan karena posisinya di selatan garis khatulistiwa.

Pertimbangan berikutnya adalah akses jalan dan keamanan. Akses jalan untuk memudahkan transportasi benih, pakan, dan hasil panen. Sedangkan pengamanan penting diper hatikan lantaran kolamnya terbu ka dan tidak di pa gar sehingga ikan mudah di pancing orang. Karena itulah ia membangun ru mah tinggal buat karyawan dan keluarganya di se tiap lokasi ko lam agar mudah melakukan pengawasan.

Terobosan Budidaya

Pak Haji menceritakan, salah satu kolam budidaya patin yang terbaru berada di Kec. Pasir Sakti, Lampung Timur, pada 100 ha lahan bekas galian pasir. Danau-danau berkedalaman 3-6 m yang telantar hampir 20 tahun itu ia sulap menjadi kolam budi daya patin yang memberi hasil ekonomi. Padahal menurut hasil riset pakar per ikanan, danau bekas galian pasir itu tidak layak untuk budidaya ikan karena tingkat keasamannya sangat tinggi. Jika tetap di paksakan, ikan bakal kerdil alias sulit berkembang.

Namun, Aribun memutar otak supaya lahan yang mencapai dua ribuan hektar itu bisa memberi hasil bagi masyarakat. Pada musim kemarau 2014, air di danau menyusut karena peng uap an dan penyedotan untuk mengairi sawah. Setelah air kian sedikit, Pak Haji menyedot dan mengalirkannya ke sungai menu ju laut. Ia membutuhkan waktu tiga bulan lagi untuk mengering kan danau.

Ia pun membuat kolam ukuran 2.000-3.000 m2 sedalam 2 m pada lahan yang dibeli dari masyara kat. Setelah itu, ia masukkan ka pur ke dasar kolam hingga mera ta. Beberapa hari kemudian, di ma sukkanlah air sumur bor hingga ke ting gian 1,5 m. Air berderajat keasaman (pH) tinggi itu kembali diguyur dengan dolomit sampai pH-nya normal. Berikutnya, benih patin ukuran 2 inci ditebar dengan kepadatan 25 ekor/m3. Menggunakan perlakuan sama dengan kolam lainnya, pertumbuhan patin di ko lam bekas galian pasir ini justru lebih ce pat dan angka kematiannya lebih rendah.

Bahkan, kini sudah memasuki siklus ke empat dan pertumbuhan ikan tetap baik. Melihat keberhasilan budidaya di kolam bekas galian, Aribun mengundang Guber nur Lampung M Ridho Ficardo untuk pa nen patin perdana. Gubernur pun men canangkan lokasi itu sebagai kawasan minapolitan yang disambut antusias oleh masyarakat. Dari keberhasilannya itu, terbersit niat Pak Haji untuk meneruskan kuliah pro gram doktor di bidang perikanan. “Apa lagi pertumbuhan ikan di sini lebih baik dari lokasi lain.

Padahal teorinya, ikan di sini seharusnya lebih jelek karena kondisi airnya payau, banyak oli dan material lainnya bekas mesin sedot pasir,” ujar lulusan Magister Manajemen itu.

Pemasaran dan Stabilitas

Harga Patin hasil budidaya kolam eks tambang, menurut suami Hj. Dariati itu, dijual ke pasar lokal dengan ukuran 2-4 ekor/kg dan UPI ukuran 0,8 ons ke atas. Harga pa tin di pasar lokal berfluktuasi antara Rp10 ribu-Rp17 ribu/kg, sedangkan harga di UPI stabil pada angka Rp16 ribu/kg. Saat harga pasar lokal jatuh ke level Rp10 ribu-Rp11 ribu/kg, Ketua APCI Prov. Lampung yang peduli pada pembudi daya di Lampung ini menahan panen pa tinnya untuk pasar lokal. Patin itu dibesarkan lagi buat dijual ke UPI. Bahkan, ia memborong patin milik pembudidaya dan dibesarkan di kolamnya untuk me nor malkan harga pasar lokal. “Ikan-ikan pembudidaya di Prov. Lam pung dengan batasan ukuran 3-5 ons kita ambil dan kita besarkan 2-3 bulan untuk mencapai 8 ons up baru dikirim ke UPI.

H. ARIBUN SAYUNIS, Lampung berpotensi mendukung pengem bangan patin untuk ekspor H. ARIBUN SAYUNIS (baju merah) sukses mengembangkan budidaya patin dan menye jahterakan keluarga dan masyarakat sekitar DOK. PRIBADI SYAFNIJAL AGRINA LO 284.qxp_Layout 1 2/7/18 5:33 PM Page 25 LIPUTAN KHUSUS Agrina 284 Februari 2018 26 Ini saya lakukan tatkala harga benar-benar drop,” paparnya sambil menjelaskan kon disi itu pernah terjadi pada 2016 dan 2017.

Aribun menuturkan, peran APCI dalam menumbuhkembangkan patin di Lam pung bukan hanya pembinaan dan pe ning katan wawasan serta keterampilan budidaya. “Tapi, kami menjaga agar harga stabil hingga pembudidaya makin ber gairah mengembangkan ikan,” ulasnya.

Peluang Ekspor

Ketua DPD Partai Perindo Kab. Lampung Selatan ini juga melihat potensi pasar ekspor yang luar biasa ke Amerika dan Ero pa. Sebelumnya mereka mengimpor pa tin sekitar 4 ribuan ton/bulan dari Viet nam dan Thailand. Belakangan patin dari kedua negara itu tidak laku karena dikha watirkan mengandung logam berat aki bat paparan limbah industri yang dibuang ke sungai. “Ini peluang emas bagi Indo nesia untuk menghasilkan devisa. Jangan sampai terlambat,” imbuh dia. Untuk mendukung ekspor, Aribun me nilai, peluang pengembangan patin di Lam pung sangat besar.

“Lokasi eks tam bang ada 2.000 ha, kita baru menggu na kan sekitar 1%-2% tapi sudah berhasil. Kita sudah bisa membuat patin cen derung putih. Berarti terbuka lebar de ngan adanya pangsa pasar ekspor ke depan,” urainya antusias. Terlebih, sarana pendukung budidaya juga tersedia. Di antaranya, akses Jalin patim Sumatera, sumber air dari jaringan irigasi yang sedang dibangun, hingga masyarakat yang akan berbudidaya. Jaringan irigasi yang dibangun memang untuk sawah. Namun, airnya bisa diman faatkan dulu buat perikanan lalu dialirkan ke saluran irigasi untuk mengairi sawah. Berdasarkan pengalaman di Palas dan Sragi, kata Aribun, petani senang menggu nakan air buangan kolam patin yang sarat bahan organik.

Pemakaian pupuk lebih sedikit tapi padinya lebih subur. Jika lokasi ini bisa menghasilkan patin, cita-cita Aribun patin lampung bakal go international bisa terwujud. Ia memim pikan patin lampung menjadi seperti nenas, kopi, dan lada lampung yang me nguasai pasar Eropa dan Amerika. “Jika hal itu sudah terwujud, baru misi dan visi APCI tercapai,” tandasnya. Apalagi dari informasi yang ia terima, Grup Charoen Pokphand (CP) juga akan mengembangkan fillet patin untuk pasar ekspor. Saat ini CP mengelola patin sekitar 800 ton/bulan untuk pasar lokal.

Berarti, lebih dari lima perusahaan terjun di bisnis fillet sehingga kebutuhan patin semakin besar. Perusahaan menginves tasikan modal miliaran rupiah untuk bis nis tentu melihat peluang pasar di dalam dan luar negeri yang terbuka lebar. Dan menilik perubahan pola belanja dan konsumsi masyarakat, pembudidaya harus siap menyediakan ikan berukuran besar untuk dibuat fillet.

Sebab, lanjut Aribun, kebutuhan ikan beku semakin tinggi karena masyarakat lebih suka mem beli ikan di mal dan supermarket daripada pasar tradisional. Karena itu, pemerintah daerah harus mendorong pembangunan cold storage (gudang berpendingin) di sentra budi daya patin untuk menampung hasil pa nen. “Jika di masing-masing daerah ada cold storage, maka tidak persoalan berapapun panen, bisa ditampung sehingga harganya lebih stabil,” tegas dia selain terus melakukan promosi makan ikan untuk meningkatkan kecerdasan generasi penerus bangsa. Selama ini, ia menganggap, pemerintah masih memandang potensi ikan air tawar dengan sebelah mata.

Padahal jika diber dayakan, mampu meningkatkan kesejah teraan pembudidaya dan menghasilkan devisa. Ia berharap lembaga pengambil kebijakan seperti DPR dan DPRD juga diisi orang-orang dari profesi petani, peter nak, pembudidaya ikan, dan nelayan yang betul-betul memahami dan me ngerti aspirasi konstituennya.

Karena itu, Aribun sengaja aktif di banyak organisasi, termasuk partai politik untuk mening katkan lobi agar pembudidaya ikan diperhatikan pemerintah.