Indonesia Siap Ekspor Produk Unggas dan Susu

Indonesia Siap Ekspor Produk Unggas dan Susu

Ditjen Peternakan dan Kese hatan Hewan (PKH), Kemen tan, terus mendorong pelaku industri peternakan untuk mengekspor produknya. Menurut I Ketut Diarmita, Dirjen PKH, saat ini Indonesia tengah mengupayakan ekspor beberapa produk peternakan, seperti olahan daging ayam dan susu cair. Untuk daging ayam olahan, ujar Ketut, persetujuan dari pemerintah Jepang sedang diurus agar ekspor bisa segera direalisasikan. Se dangkan produk susu cair, Indonesia sudah siap meng ekspor ke Myanmar. “Ini diharapkan dapat menyu sul keberhasilan kita sejak 2015 mengekspor te lur ayam tetas ke negara tersebut,” ung kap nya saat meninjau rumah po tong ayam dan pabrik pe ng olahan produk bernilai tam bah milik PT So Good Food di Bo yolali, Jateng, Kamis (9/2). Unit usaha ini te ngah diaudit Ke men terian Perta nian, Kehu tan an, dan Perikan an Jepang kelayakannya un tuk mengeks por produk ayam ke negeri itu.

Empat unit usaha peng olahan daging ayam yang sebelum nya telah disetujui Jepang untuk ekspor adalah PT Malindo Food Delight Plant Bekasi, PT So Good Food Plant Cikupa, PT Charoen Pokphand Plant Serang, dan PT Bellfood Plant Gunung Putri. Ekspor akan dila kukan dalam bentuk daging ayam olahan yang telah melalui proses pemanasan ≥ 70 o C selama ≥ 1 menit. Head of Manufacturing Operation PT So Good Food (SGF), Asrul Ointu menyatakan, SGF siap untuk mengekspor produknya. Selain olahan da ging ayam, SGF juga sedang mempersiapkan eks por susu cair Real Good ke Myan mar. “Pelaksa naan ekspor susu cair ini tinggal menunggu proses admi nistrasi, begitu se lesai kita siap ekspor,” pungkas Asrul.

Integrasi Pertanian dan Peternakan

Upaya pemanfataan sumber daya lokal dalam mewujudkan sentra agribisnis di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro, Jatim, masih butuh perhatian. Pemanfaatan Domba Kambing (Doka) secara ter integrasi dinilai belum termanfaatkan secara optimal. “Untuk menghasilkan Doka berkualitas dengan biaya terjang kau, perlu memper ha tikan bibit, pakan, ma na jemen kandang, dan mana jemen kese hatan,” ungkap Pri yo Indrianto dalam seminar “Integrasi Per ta nian dan Peternakan Berba sis Sumber Daya Lokal dalam Rangka Mewujudkan Sentra Agribisnis di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro,” di Tuban, Ja tim, Senin (18/2).

Wakil Ketua Himpunan Pe ternak Domba Kambing Indo nesia itu menegaskan, po la pikir peternak harus ber ubah menjadi pengusaha ternak supaya mam pu menghasilkan ternak yang berkualitas. Sementara Kastam, Inisi ator Komunitas Ngawi Organik Cen ter berujar, sistem per tanian organik mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia sampai 0% secara bertahap. Pertanian organik yang terintegrasi dengan ternak bisa berdampak positif bagi kelangsungan ekosistem lingkungan dan upaya meraih kedaulatan pangan. Agar petani mau beralih ke pertanian organik, mereka perlu ditunjukkan bukti nyata kemanfaatannya.