Evialis Tawarkan Solusi Kemitraan Berinovasi

Evialis Tawarkan Solusi Kemitraan Berinovasi

Usaha peternakan saat ini penuh dengan ketidakpastian. Menurut A. Harris Priyadi, ketidakpastian itu datang dari berbagai arah, seperti kebijakan pemerintah, kondisi perekonomian, perubahan iklim, dan tantangan alam. “Beberapa kali peraturan-peraturan baru muncul merombak tatanan yang sudah berlangsung selama ini, terkadang bisa sangat mengejut kan, berubah total,” ujar National Sales Manager Live stock Invivo Indonesia, yang sekarang menjadi Neovia Indonesia.

Terkadang aturan bisa bersifat ambigu. “Kita maunya swa sembada tapi lalu im por daging kerbau. Apa ja min annya kita nggak impor karkas ayam? Di era perdagangan bebas ASEAN yang notabene jagungnya sebagai bahan baku pakan di luaran (harga internasional) lebih murah. Nah, itu se dikit-banyak adalah bentuk ketidakpastian yang harus dihadapi,” paparnya di aca ra Evia lis Road Show 2016-2017 November – Februari.

Harus Siap

Harris menjelaskan, peternak harus siap dengan ber bagai perubahan cepat dan ketidakpastian yang terjadi. “Itu menyebabkan peternak yang mau berhasil harus selalu punya plan (rencana) A, B, C. Dan salah satu yang terbaik adalah mulai fokus ke end product (produk akhir) sehingga punya value added (nilai tambah),” katanya kepada sekitar 100 peternak peserta road show. Peternak jangan lagi sekadar menjual komoditas. Mereka harus mulai berani menggarap produk akhir, misalnya menjual telur, ayam, puyuh, atau daging dengan me rek khusus.

Dia melanjutkan, “Dikasih nama ayam Bogor atau telur Bali, misalnya, sehingga kantor dan hotel di Bali akan memprioritaskan membeli telur yang dihasilkan peternakan lokal.” Akan lebih baik jika didukung peraturan daerah yang mewajibkan pembelian produk khas dae rah, seperti telur Bogor atau Bali, itu akan mendorong pertumbuhan bisnis peternak an rakyat di tiap daerah. “Dan itu salah satu pe luang mencegah masuknya produk peternakan impor dari negara-negara ASEAN atau manapun yang jauh lebih murah harganya. Apa lagi efisiensinya juga lebih baik dari peternakan rakyat kita saat ini pada umumnya,” ulas dokter hewan alumnus IPB tersebut saat ditemui terpisah.

Solusi

Evialis Tidak hanya membuka wawasan kondisi peternakan Indonesia, road show tahap I dan II yang berlangsung di Solo, Jateng dan Blitar, Jatim ini juga memaparkan dan mena war kan solusi kemitraan berinovasi khas Neovia. Evialis adalah merek inovasi berkesinambungan atas produk pakan ternak yang diproduksi oleh Neovia. Sebelumnya, pakan ternak ini ber label Guyofeed. Perubahan merek dila kukan secara global dimana Neovia berada, termasuk Indonesia. Pergantian merek bukan hanya perubahan label, kemasan, dan logo, melainkan didukung oleh penelitian, perbaikan, dan komitmen yang telah dan akan selalu dilakukan Neovia.

Salah satunya, di Pabrik Wirifa sudah ada perbaikan fasilitas flat storage, silo, hingga instrumen laboratorium, peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM), hingga pengujian formulasi dan bahan baku pakan di test farm Mojosari. “Ada pakem baru yang diperkenalkan juga, yaitu kemasan produkproduk untuk hewan muda (pakan PreStarter) dengan ke ma s an 30 kg yang selama ini hanya untuk pakan burung,” im buh Harris sambil mengarahkan peternak broiler, layer, babi, atau puyuh akan pentingnya menggunakan pakan PreStarter saat ini. Investasi yang memastikan penampilan pertumbuhan ternak yang optimal sesuai potensi genetisnya. Evialis, sambungnya, menganut filo sofi makna environtment (lingkungan), vi=live (hidup), alimentation feed (pakan), dan security serta safety (ketercukupan dan keamanan).

Jadi, produk pakan, dan jasa nutrisi hewan yang mem perhatikan lingkungan dan memperbaiki kinerja pakan sehingga outputnya bisa menjamin ketersediaan, kecukupan, dan keamanan pangan (manusia). Dia mengingatkan, dalam ketidakpastian ini pelaku usaha peternakan perlu saling bekerja sama berdasarkan inovasi. “Evialis merepresentasikan kerja sama yang berlandaskan inovasi untuk memberi kan solusi pada peternak. Karena pemilik Neovia adalah ratusan koperasi peternak-petani di dunia. Intinya, situasi sulit ini kalau dihadapi sendiri, akan susah. Tapi kalau kita selalu tukar pikir an, saling kasih masukan, akan jauh lebih mudah,” tandasnya.