Wina Suta Salah Gaul

Salah pergaulan bisa mengantarkan pada keburukan. Eits, itu bisa terjadi kalau salah bergaul dengan orang-orang yang berperilaku buruk. Tapi, jika salah gaul dengan orang-orang bermutu tentu keluarannya juga akan berkualitas. Pengalaman inilah yang dialami Wina Suta, Marketing Communication Manager PT Surya Prima Pharma (ARS).

Karena salah gaul, Wina menjadi sangat peduli pada gaya hidup sehat dan keberlanjutan lingkungan, misalnya masalah pembuangan popok bekas ke sungai. “Setiap jam di Sungai Brantas lewat 80 popok bekas. Bayangkan cemarannya kayak apa. Padahal dari popok itu keluar dioxin, gel.

Dioxin buat bayi jadi iritasi. Itu bahaya, racun. Ikan juga nggak bisa. Ikan makan gel, penuh perutnya, nggak bisa makan lagi, mati,” paparnya. Wina pun sangat mendukung keberadaan Brigade Popok untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya cemaran popok bekas.

Sebagai Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Airlangga, Surabaya, Wina mengakui seharusnya dia terjun ke dunia ekonomi, contohnya bursa efek, dan bukan mengurusi masalah lingkung an. “Saya itu cuma salah gaul aja, salah gaul yang menguntungkan,” canda praktisi hidroponik rumahan itu sambil tertawa.

Mengenal Ceva Lebih Dekat

Untuk pertama kalinya, per usahaan top 10 dunia dalam bidang kesehatan hewan, Ceva, menyelenggarakan pertemuan dan silaturahmi bersama media. Country Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Edy Purwoko, dalam sambutannya berujar, sarana ini sebagai wujud komunikasi ser ta menjaga hubungan baik antara perusahaan dan media. “Media bisa lebih mengetahui apa dan bagaimana perkembangan bisnis Ceva.

Semoga acara ini bisa berlangsung rutin setiap tahun,” ungkapnya di The Breeze BSD City, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (31/1). Senada dengan Edy, Adhys ta Prahaswari, Marketing Executive PT Ceva Animal Health Indonesia menam bahkan, kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan media. Acara ini juga sekaligus sebagai sarana bertukar pendapat dan informasi terkait isu dan permasalahan penyakit hewan terbaru di lapangan.

What Makes Ceva Different

Ceva hadir di 45 negara dan berbis nis di 110 negara. Meskipun terbilang perusahaan baru, pertumbuhan Ceva begitu pesat. Dari awal perusahaan ber diri, penjualan mencapai 131 juta Euro pada 2000. Sementara pada 2016 pen jualan me nyentuh angka 912 juta Euro, dan pada November 2017, pen jual an melewati 1 miliar Euro secara global.

Bukan tanpa alasan Ceva menjadi per usahaan top 10 semenjak 2010. Edy mengungkap, yang membuat Ceva ber beda dari perusahaan lain adalah adanya value-value perusahaan yaitu salah satunya customer passion. “Ceva selalu berupaya dekat dengan pelanggan dan berusaha memberikan yang terbaik,” tuturnya. Selain itu, Edy menambahkan, bahwa naik dan berkembangnya suatu per usahaan lantaran adanya inovasi.

Tidak hanya memiliki produk-produk vaksin yang inovatif hatchery, produk dan solusi yang Ceva berikan hadir mulai dari segmen breeder dan commercial (broiler dan layer). Selain itu, Ceva Indonesia juga dilengkapi dengan program-program khusus (CHICK Program dan EGGS Program) dan equipment handal yang diper sembahkan untuk para pelanggan.

Menjawab Tantangan

Berbicara industri perunggasan, banyak tantangan untuk menjaga sta bi litas produksi. Ayatullah M. Natsir, Tech nical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia menga takan, tantangan di sektor perung gas an tidak lepas dari berbagai macam penyakit. Pada 2017, ungkap Ayat, Ceva melakukan pemetaan penyakit yang ada di Indonesia.

Tujuannya adalah mencari solusi inovatif dalam memberikan perlindungan kesehatan ternak. Tan tangan lain, lanjutnya, ke depan industri ayam akan mengarah kepada kandang tertutup (closed house) terkait efisiensi. Ayat menjabarkan, Ceva memiliki CHICK (Ceva Hatchery Immunisa tion Control Keys) program. Akhir 2017 telah mendapatkan Quality Recog nition dari Bureau Veritas, perusaha an pengujian dan sertifikasi internasional. Dalam program tersebut, Tim Ceva akan secara rutin mengunjungi hatchery untuk memasti kan ayam telah divaksi nasi 100% dengan baik.

Wintolo, Layer & Bree der Business Develop ment Mana ger PT Ceva Animal Health Indonesia menim pali, pihaknya juga punya EGGS program. Program ini dirancang untuk meng optimalkan kualitas vaksi nasi pada bree der dan la yer dengan empat pilar uta ma, yakni Vaccine (Handling & Pre paration), Equipment (Se tup, Opera tion, & Cleaning) Vaccina tion Technique (Technique Principle & Methods), dan Monitoring & Diagnosis (Monitoring & Reporting). Ceva juga menganut konsep Global Protection System (GPS), yaitu perlindung an vaksinasi tidak hanya untuk satu negara saja, tapi secara global.

Selain itu, Ceva pun memiliki proyek Ecat ID (Hatchery automation). Penetas otomatis ini merupakan alat yang sem purna dalam meningkatkan perfor ma hatchery dan memaksimalkan produktivitas. Semua program tersebut untuk mewu judkan perlindungan menyeluruh ter hadap ternak unggas milik pelanggan Ceva di seluruh dunia

Patin Lampung Harus Go International

Siapa sangka mengawali bisnis de ngan berjualan benih lele dari desa ke desa akan mengantarkan H. Aribun Sayunis ke posisi juragan patin. Bahkan, ia menjadi inspirator agribisnis bagi para pembudidaya patin di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, Sumsel, Jambi, dan Sumbar. Pria berusia 49 tahun ini sukses membu didayakan patin dan nila pada lebih dari 300 kolam yang terpencar di empat lokasi meliputi Kab.Lampung Selatan dan Lam pung Timur.

Dari kolam berukuran 800- 3.000 m2 itu, ia sanggup memanen patin sebanyak 10 ton/hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan unit pengolah ikan (UPI) yang memproduksi fillet. Dimulai dengan bekerja seorang diri, kini Aribun telah mempekerjakan hampir 100 orang karyawan. Sebagian besar bertugas di bagian panen dan penjualan sekaligus distribusi.

Memasok Benih Lele

Aribun merintis kiprah di dunia akuakul tur pada 1990. Saat usianya baru meng injak 21 tahun itu, ia merangkak dari ba wah dengan modal Rp25 ribu. Mulanya ia memasok benih lele dumbo ke pembu didaya ikan di Kab. Pringsewu dan Kab. Tanggamus.

Tidak lama, usahanya me ram bah ke Kab. Lampung Tengah dan Kab. Lampung Timur. Seiring berjalannya waktu, permintaan benih lele datang dari provinsi lain hingga Aribun pun mema sar kan benih bernama ilmiah Clarias batra chus itu ke Prov. Sumsel, Jambi sampai Sumbar. Berbeda dengan pemasok lain yang se kadar menjual benih, Aribun justru mem berikan pembinaan tentang teknis budi daya benih lele agar berhasil. Selanjutnya, ia juga mencarikan pasar dan bersedia menampung hasil panen para pembudi daya yang membeli benihnya.

Dengan pola demikian, pria yang gigih berusaha ini disenangi banyak pembudidaya. Untuk mengetahui tek nis dan kendala budidaya ser ta penyakit lele, Pak Haji, sa paan nya, lantas melaku kan budidaya lele pada 1994 di Desa Palas Pase mah, Kec. Palas, Kab. Lam pung Selatan. “Jadi, saya ti dak seperti penyu luh yang hanya menje las kan teori tapi hasil peng alaman sen diri di kolam,” terang Ari bun ketika dite mui AGRINA di kediamannya.

Melirik Patin

Aribun makin asyik meng geluti agribisnis lele hingga ia enggan melirik komoditas akuakultur lain nya, seperti patin. Karena gencarnya pemberitaan peluang ekspor patin, pada 2006 ia lantas berinisiatif mengembangkan ikan ber nama latin Pangasius sp. ini. Ia mengingat ekspor udang yang memberi ke untungan luar biasa bagi pembudidaya di Lampung.

Pertimbangan lainnya, pelaku bisnis lele sudah cu kup banyak dan produksi lele dari Lampung berlebih sehingga dikirim ke Sumsel setiap hari. Mulailah ayah tiga anak ini berbudidaya patin dengan menebar benih ukuran dua inci. Benih didatangkan dari Balai Peneli tian dan Pemuliaan Ikan Sukamandi, Subang, Jabar dan bekerja sama dengan para pembenih anggota Asosiasi Pem budidaya Catfish Indonesia (APCI).

Jika Aribun memilih segmen pembe nihan pada budidaya lele, untuk budi daya patin ia mengambil segmen pembe saran atau konsumsi. Sebelumnya, benih Lampung berpotensi menghasilkan patin berstandar internasional dari kolam bekas tambang pasir. Sebab, kualitas air di daerah itu cukup bagus dan lebih dekat dengan Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpatim) Sumatera. Dalam memilih lokasi budidaya, Pak Haji mengutamakan ketersediaan sumber air mengingat iklim Lampung yang meng alami musim kemarau ekstrem selama empat bulan karena posisinya di selatan garis khatulistiwa.

Pertimbangan berikutnya adalah akses jalan dan keamanan. Akses jalan untuk memudahkan transportasi benih, pakan, dan hasil panen. Sedangkan pengamanan penting diper hatikan lantaran kolamnya terbu ka dan tidak di pa gar sehingga ikan mudah di pancing orang. Karena itulah ia membangun ru mah tinggal buat karyawan dan keluarganya di se tiap lokasi ko lam agar mudah melakukan pengawasan.

Terobosan Budidaya

Pak Haji menceritakan, salah satu kolam budidaya patin yang terbaru berada di Kec. Pasir Sakti, Lampung Timur, pada 100 ha lahan bekas galian pasir. Danau-danau berkedalaman 3-6 m yang telantar hampir 20 tahun itu ia sulap menjadi kolam budi daya patin yang memberi hasil ekonomi. Padahal menurut hasil riset pakar per ikanan, danau bekas galian pasir itu tidak layak untuk budidaya ikan karena tingkat keasamannya sangat tinggi. Jika tetap di paksakan, ikan bakal kerdil alias sulit berkembang.

Namun, Aribun memutar otak supaya lahan yang mencapai dua ribuan hektar itu bisa memberi hasil bagi masyarakat. Pada musim kemarau 2014, air di danau menyusut karena peng uap an dan penyedotan untuk mengairi sawah. Setelah air kian sedikit, Pak Haji menyedot dan mengalirkannya ke sungai menu ju laut. Ia membutuhkan waktu tiga bulan lagi untuk mengering kan danau.

Ia pun membuat kolam ukuran 2.000-3.000 m2 sedalam 2 m pada lahan yang dibeli dari masyara kat. Setelah itu, ia masukkan ka pur ke dasar kolam hingga mera ta. Beberapa hari kemudian, di ma sukkanlah air sumur bor hingga ke ting gian 1,5 m. Air berderajat keasaman (pH) tinggi itu kembali diguyur dengan dolomit sampai pH-nya normal. Berikutnya, benih patin ukuran 2 inci ditebar dengan kepadatan 25 ekor/m3. Menggunakan perlakuan sama dengan kolam lainnya, pertumbuhan patin di ko lam bekas galian pasir ini justru lebih ce pat dan angka kematiannya lebih rendah.

Bahkan, kini sudah memasuki siklus ke empat dan pertumbuhan ikan tetap baik. Melihat keberhasilan budidaya di kolam bekas galian, Aribun mengundang Guber nur Lampung M Ridho Ficardo untuk pa nen patin perdana. Gubernur pun men canangkan lokasi itu sebagai kawasan minapolitan yang disambut antusias oleh masyarakat. Dari keberhasilannya itu, terbersit niat Pak Haji untuk meneruskan kuliah pro gram doktor di bidang perikanan. “Apa lagi pertumbuhan ikan di sini lebih baik dari lokasi lain.

Padahal teorinya, ikan di sini seharusnya lebih jelek karena kondisi airnya payau, banyak oli dan material lainnya bekas mesin sedot pasir,” ujar lulusan Magister Manajemen itu.

Pemasaran dan Stabilitas

Harga Patin hasil budidaya kolam eks tambang, menurut suami Hj. Dariati itu, dijual ke pasar lokal dengan ukuran 2-4 ekor/kg dan UPI ukuran 0,8 ons ke atas. Harga pa tin di pasar lokal berfluktuasi antara Rp10 ribu-Rp17 ribu/kg, sedangkan harga di UPI stabil pada angka Rp16 ribu/kg. Saat harga pasar lokal jatuh ke level Rp10 ribu-Rp11 ribu/kg, Ketua APCI Prov. Lampung yang peduli pada pembudi daya di Lampung ini menahan panen pa tinnya untuk pasar lokal. Patin itu dibesarkan lagi buat dijual ke UPI. Bahkan, ia memborong patin milik pembudidaya dan dibesarkan di kolamnya untuk me nor malkan harga pasar lokal. “Ikan-ikan pembudidaya di Prov. Lam pung dengan batasan ukuran 3-5 ons kita ambil dan kita besarkan 2-3 bulan untuk mencapai 8 ons up baru dikirim ke UPI.

H. ARIBUN SAYUNIS, Lampung berpotensi mendukung pengem bangan patin untuk ekspor H. ARIBUN SAYUNIS (baju merah) sukses mengembangkan budidaya patin dan menye jahterakan keluarga dan masyarakat sekitar DOK. PRIBADI SYAFNIJAL AGRINA LO 284.qxp_Layout 1 2/7/18 5:33 PM Page 25 LIPUTAN KHUSUS Agrina 284 Februari 2018 26 Ini saya lakukan tatkala harga benar-benar drop,” paparnya sambil menjelaskan kon disi itu pernah terjadi pada 2016 dan 2017.

Aribun menuturkan, peran APCI dalam menumbuhkembangkan patin di Lam pung bukan hanya pembinaan dan pe ning katan wawasan serta keterampilan budidaya. “Tapi, kami menjaga agar harga stabil hingga pembudidaya makin ber gairah mengembangkan ikan,” ulasnya.

Peluang Ekspor

Ketua DPD Partai Perindo Kab. Lampung Selatan ini juga melihat potensi pasar ekspor yang luar biasa ke Amerika dan Ero pa. Sebelumnya mereka mengimpor pa tin sekitar 4 ribuan ton/bulan dari Viet nam dan Thailand. Belakangan patin dari kedua negara itu tidak laku karena dikha watirkan mengandung logam berat aki bat paparan limbah industri yang dibuang ke sungai. “Ini peluang emas bagi Indo nesia untuk menghasilkan devisa. Jangan sampai terlambat,” imbuh dia. Untuk mendukung ekspor, Aribun me nilai, peluang pengembangan patin di Lam pung sangat besar.

“Lokasi eks tam bang ada 2.000 ha, kita baru menggu na kan sekitar 1%-2% tapi sudah berhasil. Kita sudah bisa membuat patin cen derung putih. Berarti terbuka lebar de ngan adanya pangsa pasar ekspor ke depan,” urainya antusias. Terlebih, sarana pendukung budidaya juga tersedia. Di antaranya, akses Jalin patim Sumatera, sumber air dari jaringan irigasi yang sedang dibangun, hingga masyarakat yang akan berbudidaya. Jaringan irigasi yang dibangun memang untuk sawah. Namun, airnya bisa diman faatkan dulu buat perikanan lalu dialirkan ke saluran irigasi untuk mengairi sawah. Berdasarkan pengalaman di Palas dan Sragi, kata Aribun, petani senang menggu nakan air buangan kolam patin yang sarat bahan organik.

Pemakaian pupuk lebih sedikit tapi padinya lebih subur. Jika lokasi ini bisa menghasilkan patin, cita-cita Aribun patin lampung bakal go international bisa terwujud. Ia memim pikan patin lampung menjadi seperti nenas, kopi, dan lada lampung yang me nguasai pasar Eropa dan Amerika. “Jika hal itu sudah terwujud, baru misi dan visi APCI tercapai,” tandasnya. Apalagi dari informasi yang ia terima, Grup Charoen Pokphand (CP) juga akan mengembangkan fillet patin untuk pasar ekspor. Saat ini CP mengelola patin sekitar 800 ton/bulan untuk pasar lokal.

Berarti, lebih dari lima perusahaan terjun di bisnis fillet sehingga kebutuhan patin semakin besar. Perusahaan menginves tasikan modal miliaran rupiah untuk bis nis tentu melihat peluang pasar di dalam dan luar negeri yang terbuka lebar. Dan menilik perubahan pola belanja dan konsumsi masyarakat, pembudidaya harus siap menyediakan ikan berukuran besar untuk dibuat fillet.

Sebab, lanjut Aribun, kebutuhan ikan beku semakin tinggi karena masyarakat lebih suka mem beli ikan di mal dan supermarket daripada pasar tradisional. Karena itu, pemerintah daerah harus mendorong pembangunan cold storage (gudang berpendingin) di sentra budi daya patin untuk menampung hasil pa nen. “Jika di masing-masing daerah ada cold storage, maka tidak persoalan berapapun panen, bisa ditampung sehingga harganya lebih stabil,” tegas dia selain terus melakukan promosi makan ikan untuk meningkatkan kecerdasan generasi penerus bangsa. Selama ini, ia menganggap, pemerintah masih memandang potensi ikan air tawar dengan sebelah mata.

Padahal jika diber dayakan, mampu meningkatkan kesejah teraan pembudidaya dan menghasilkan devisa. Ia berharap lembaga pengambil kebijakan seperti DPR dan DPRD juga diisi orang-orang dari profesi petani, peter nak, pembudidaya ikan, dan nelayan yang betul-betul memahami dan me ngerti aspirasi konstituennya.

Karena itu, Aribun sengaja aktif di banyak organisasi, termasuk partai politik untuk mening katkan lobi agar pembudidaya ikan diperhatikan pemerintah.